Posted on

Antara aMrazing dan Urwah

Takdirnya berarti hari ini. Karena beberapa hari sebelumnya entah kenapa alamat web Amrazing sulit diakses dari browser tab saya. Setiap indikasi loading penuh, yang kelihatan cuma warna putih aja. Ndak ada apa apa. Apa mungkin traffic webnya sedang penuh. Dengan jumlah subscribers ribuan serta puluhan ribu followers google, hal seperti ini mungkin wajar terjadi yah.

Perhatian saya tertuju pada satu judul aneh ditengah judul-judul lain yang berbahasa inggris. A Strange Love Story. Penasaran sama isinya. Dan benar, orang ini ‘senior’ lah ya. Bacanya santai. Ngalir urut dan nangkep banget sama pesannya. Jadilah saya terpancing buka judul-judul yang lain.

Boleh dong punya selera. Dengan saya tampilan Amrazing kurang setipe. Terlalu krodit. Fotonya banyak, susah fokus (iya sih, karena karyanya sudah terlampau banyak, ditambah saya yang dasarnya memang cuma suka sama tema sederhana dan bersih). Tapi tulisan-tulisannya membuat saya jadi tak peduli akan tampilan.

A Strange Love Story. Membacanya membuka kembali ingatan saya tentang kisah Urwah bin Zubair. Seorang ulama yang masyhur dijaman tabi’in karena menjadi rujukan ulama ulama lain dijamannya.

Satu saat Urwah bin Zubair datang bersama anak tertuanya memenuhi undangan Khalifah. Begitu sampai di Istana, Urwah bergegas masuk menemui Khalifah, sedangkan putranya yang telah hafidz dan hapal ribuan hadits ini pamit untuk mengikuti kuda-kuda kerajaan yang sedang digiring masuk ke kandang.

Rupanya sang putra yang sejak kecil memang dikader untuk menjadi penerus ayahnya ini kagum pada fisik kuda kerajaan yang begitu gagah, serta bulunya yang halus mengkilap.

Di sebuah ruang di Istana, Urwah sedang berbincang serius dengan Khalifah Al-Walid sebelum salah satu staff istana masuk menyela pembicaraan Khalifah. ‘Maafkan saya harus memotong perkataan Anda, Ya Amirul Mukminin.’ (Di jaman itu ada peraturan dilarang memotong perkataan Khalifah, kecuali ada hal yang darurat).

‘Apa hal yang begitu besar yang membuatmu memotong perkataanku? Apakah terjadi serangan terhadap muslimin oleh kaum kafir? Apakah hal besar terjadi?’

‘Tidak, Khalifah. Berita yang hendak saya sampaikan berkaitan dengan tamu anda.’

‘Ada apa dengan tamuku? Ceritakan.’ Jawab sang Khalifah.

‘Baru saja, putra Tuan Urwah ditendang kuda dan mati’

Sang Khalifah terkejut bukan main. Pengawal kemudian menceritakan bagaimana hal tersebut terjadi. Sebenarnya pengawal telah mengingatkan agar tak terlalu dekat dengan kuda kuda tersebut karena bisa berbahaya. Tapi sang putra berada terlalu dekat dengan salah satu kuda sebelum akhirnya ditendang di bagian dada, dan lalu meninggal.

Yang sangat menarik saat itu adalah reaksi dari Urwah bin Zubair. Ketika kebanyakan orang akan histeris ketika mendengar sebuah kabar kematian dari seseorang yang dicintainya. Terlebih anak kandungnya sendiri yang telah sejak kecil dirawat dan dididik dengan sangat baik, meninggal lebih dulu.

Urwah hanya mengatakan ‘Innalilahi wainna ilaihi rojiun, telah tiba ajalnya. Baiklah, bawakan ia (jenazahnya) padaku, aku akan mengurusnya.’

Ayahnya sendiri yang melakukan setiap prosesi. Mulai memandikan, mengkafani, hingga menidurkannya di galian makam yang telah disiapkan pihak istana. Hari itu juga.

Sungguh, ini cerminan perilaku seseorang dengan iman baja yang begitu besar yang telah mendarah daging di dirinya. Sangat sulit ditemukan pada orang-orang biasa, apalagi yang modelnya seperti saya. Jauh. Sulit menyamai orang seperti ini dalam hal apapun.

Kejadian yang tak kalah pedih menimpa Urwah bin Zubair di hari itu, selain kematian anaknya. Ada sebuah penyakit tanah yang ketika orang terkena penyakit ini seketika itu bagian tubuh yang terkena akan membusuk. Hanya ada satu langkah penyembuhan yang diketahui para tabib bahkan yang terbaik pada saat itu. Yaitu, memotong bagian yang busuk, agar tak menjalar ke bagian tubuh lainnya.

Khalifah yang mengetahui kondisi tersebut, memerintahkan tabib terbaik untuk menanganinya. Ia perintahkan untuk menyampaikan solusi satu-satunya ini pada Urwah dengan sangat lembut dan hati hati. Rupanya bahkan sang Khalifah pun membayangkan betapa akan sangat terpukulnya siapapun orang yang ditimpa kejadian seperti ini.

Tabib masuk menemui Urwah, diruang perawatan terbaik yang ada di Istana yang sengaja disiapkan Khalifah untuk menangani Urwah.

‘Tuan Urwah, ketahuilah sungguh ini bukan penyakit yang ringan. Ini Gorgorina. Jika dibiarkan, seluruh tubuh anda akan membusuk. Tidak ada jalan lain, saya harus memotong kaki anda.’ Tabib yang turut mengisahkan kisah ini mengatakan ‘Sungguh, belum pernah kutemui orang seperti ini. Yang ketika saya katakan harus memotong kakinya dia hanya mengatakan ‘Innalillahi. Baiklah, potong saja.’.’

Segala kebutuhan eksekusi amputasi dengan segera dipersiapkan. Berbotol-botol khomer yang berbagai macam (minuman keras untuk digunakan sebagai bius) diletakkan di dekat Urwah, dan dipersilahkan dirinya untuk memilih oleh tabib, mana yang akan diminum.

‘Apa ini?! Untuk apa khomer khomer ini?!’

‘Tuan Urwah, kami akan memotong kaki anda. Kami akan mengiris kulit anda, melanjutkan ke dagingnya kemudian ke tulang sampai benar benar putus. Tidak ada jalan lain, anda harus meminum ini untuk mengurangi sakitnya. Setiap orang yang akan dipotong kaki atau tangannya harus meminum ini. Harus mabuk. Jika tidak mereka akan mati.’

‘Tidak. Bagaimana mungkin aku menghindarinya di kala aku sehat dan sekarang aku harus meminumnya di kala aku sakit. Tidak. Mustahil. Ini Haram!’

‘Wahai Tuan Urwah, tidak ada jalan lain. Lalu apa saran anda?’

‘Begini. Aku akan berdzikir. Dan ketika nanti wajahku memerah, maka mulailah memotongnya.’

Tabib menuruti permintaan pasiennya yang keras kepala tersebut. Meski dengan penuh keraguan karena belum pernah ia lakukan hal demikian. Urwah pun memulai dzikirnya ‘Subhanallah, walhamdulillah, walaa ila haillallahuwallahu akbar.’

‘Dan kulihat memang wajahnya lambat laun memerah. Saat itulah mulai kupotong  kakinya, kemudian darah mengucur. Tapi anehnya, tidak ada perubahan sama sekali pada suaranya. Suaranya tetap tenang. Tidak seperti sedang menahan sakit. Seakan dia sudah berada di alam lain.’, sang tabib mengisahkan.

‘Setelah selesai, saya tepuk pahanya. Tuan Urwah, sudah selesai. ‘Alhamdulillah’, hanya itu saja katanya. Seperti tidak ada rasa sakit. Padahal saya baru saja memotong kakinya. Memotong tulangnya!’

‘Tapi darah masih mengucur. Harus dihentikan. Lalu saya sampaikan padanya ini harus dihentikan. ‘Maka hentikan.’, katanya. Tapi ketahuilah hanya ada satu caranya. Saya harus celupkan ujung kaki anda yang terpotong ini ke dalam minyak panas.’

‘Baik, lakukanlah.’ Jawab Urwah tenang. ‘Saya akan berdzikir, lalu jika wajah saya merah, maka lakukan.’

‘Dan setelah wajahnya memerah, lalu saya lakukan. Saya celupkan ujung kakinya ke minyak yang telah dipanaskan sampai mendidih, agar terbakar otot ototnya dan darah berhenti mengucur. Tapi manusia. Pada saat itu Urwah pun tiba-tiba pingsan. Dan setelah beberapa saat, ia bangun dari pingsannya dengan kaki yang sudah terbalut. Ia lalu menanyakan potongan kakiknya. Banyak orang di ruangan itu heran, untuk apa ia tanyakan itu. Tapi saya lalu menunjukkan potongan kaki tersebut.’

‘Kemudian dia pegang potongan kaki yang akan dikuburkan tersebut, dan berkata ‘Segala puji bagi Allah yang telah memudahkan saya untuk tidak pernah melangkahkanmu ke tempat yang haram. Sekalipun, tidak. Dan kau akan kembali pada Tuhanmu untuk menjadi saksi saya dihari kiamat.’

Kemudian Urwah pun beristirahat sampai keadaanya membaik.

Diriwayatkan, bahwa Urwah bin Zubair ini tidak pernah meninggalkan minimal 10 juz al Quran setiap harinya. Sampai ia dijuluki sahabat al Quran. Setiap hari kecuali hari itu.

Setiba kembali Urwah bin Zubair di Madinah, ramai orang menyambutnya. Mereka bertakziah. Seluruh orang tahu Urwah bin Zubair, anaknya yang tertua meninggal, dan harus kehilangan satu kakinya. Cobaan yang teramat berat bagi orang pada umumnya. Sehingga banyak orang yang hadir saat iu menangis. Prihatin dan sedih melihat keadaan Urwah.

Namun dengan kejelian imannya, Urwah melihat perlu menenangkan orang-orang yang hadir. Dan lihatlah, bagaimana pola berpikir orang yang mengenal Tuhannya.

‘Wahai para tamuku, kerabatku, juga anak-anakku sekalian dan istriku. Janganlah terusak iman kalian dan berlebih lebihan dengan apa yang telah kalian lihat terjadi padaku. Ketahuilah, Allah memberiku 4 orang anak. Mengambil satu diantaranya dan meninggalkan 3 untukku, maka Alhamdulillah. Dan Allah memberiku 4. Tangan dan kaki. Ia mengambil satu darinya, dan menyisakan untukku 3, Alhamdulillah. Demi Allah, kalau Allah telah mengambil sebagian dari saya, maka Allah telah meninggalkan untuk saya yang BANYAK!. Dan kalau Allah memberikan kepada saya cobaan sekali dua kali, maka sesungguhnya telah banyak waktu dan kondisi serta keadaan dimana justru saya diselamatkan.’, setelah itu tenanglah seluruh orang yang hadir saat itu. Merekapun mengetahui bagaimana Urwah dengan keimanannya.

Kisah ini saya dengar dari salah satu ustadz favorit saya. Salah satu dari sekian banyak kisah sahabat dan orang alim di abad abad awal Islam yang beliau ceritakan. Dari beliau juga saya mendapat pandangan ilmu bahwa berdemo untuk menyampaikan tuntutan, dan menentang kebijakan pemerintah dengan cara yang tidak sesuai syariat (tidak pernah dianjurkan, dicontohkan oleh Rasulullah dan sahabat serta ulama) hukumnya adalah HARAM. Wallahu’alam.

Tapi tidak lantas saya menyalahkan atau menghina saudara saya yang lain, khususnya yang pernah berdemo dan menggunakan caranya sendiri menyelesaikan problem di tengah masyarakat, yang bahkan diantaranya justru menimbulkan keresahan bagi sebagian masyarakat yang lain. Saya berdoa semoga kita semua dilembutkan hatinya oleh Allah.

Ada korelasi yang sangat kental pada kedua kisah yang saya sampaikan diatas. A Strange Love Story milik Amrazing.com dengan kisah Urwah bin Zubair. Keduanya memberi saya pelajaran bahwa kebanyakan dari kita terlalu mudah menyerahkan diri terjebak terlalu lama pada kesedihan.

Agaknya kehidupan dan kebersamaan yang telah cukup lama ini, membuat kita lupa bahwa keabadian hanya akan ada nanti justru setelah kematian. Kita perlu terus mengingat ini, agar tidak lupa bahwa ada hari yang bersisa (entah seberapa banyak) untuk kita lanjutkan. Menoreh kebaikan kebaikan dan manfaat sebagai bekal nanti di keabadian.

Pagi ini saya terbangun dengan hati yang bersedih. Entah bagaimana ceritanya, tapi dalam mimpi itu, istri saya diperistri orang lain. Ia bukan lagi menjadi milik saya. Hati saya lemas. Ada sisa sisa kesedihan dan amarah yang bahkan masih terbawa sampai saat saya terjaga. Membuat saya malas untuk beranjak dari tempat tidur. Seolah tubuh saya lupa, bahwa itu hanya mimpi.

Jikapun mimpi saya terjadi, itu semua pastilah takdir Allah yang satupun dari kita tiada ‘kan mampu menghindar. Siapapun memiliki resiko yang sama. Tidak hanya saya. Bahkan Raffi Ahmad dan Nagita. Atau mungkin Chelsea dan Glen. Yang tampak sangat mustahil dipisahkan. Atau mungkin panjenengan.

Allah yang menggenggam hati dan Maha Membolak-balikkannya. Tiada kuasa bahkan sekecil apapun pada diri kita.

Tidak terbantahkan.

Kalo menurut panjenengan bagimana?

 

-Mas Awang-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *