Posted on

Piye, Enak Jamanku Toh?

Ah, yo penak saiki, pak’e! *hahahaha*

Saya heran ya. Orang-orang masih suka sekali sama kalimat ini. Sabar. Saya ndak bilang jaman dulu ndak enak. Enak kok. Tapi sedikit sedikit protes, menghardik masa kini, dan mengatakannya kemerosotan itu ya keliru.

Jaman dulu enak. Beras murah. Apa apa murah.

Loh, sekarang ini apa sih yang mahal? Apa sih yang ndak bisa dibeli. Ndak kuat bayar tunai, panjenengan bisa nyicil.

Segalanya yang ada di jaman dulu itu, sekarang bukan ndak ada. Ada. Bahkan makin banyak. Sebut aja. Motor? Mobil? Rumah? Toko? Mall? Gedung? Perkantoran? Apa lagi? Semuanya makin banyak.

Artinya, makin banyak orang yang mampu beli. Makin banyak investor. Makin banyak pekerja yang ditampung. Makin banyak orang berpenghasilan. Makin banyak orang merasakan perbaikan hidup.

Sekolah swasta makin banyak. Sekolah negeri di gratiskan. Asal mau, anak anak tinggal sekolah.

Rumah sakit swasta bangun-membangun. Rumah sakit umum lari berbenah tergupuh-gupuh. Kenapa? Banyak orang rewel merasa MAMPU bayar.

Tempat belanja berlomba-lomba. Supermarket. Minimarket. Sampai toko peracangan. Semua tetap buka. Kenapa? “Pasar” ndak pernah habis.

Tempat dugem menjamur. Cafe-cafe apalagi. Anak muda ndak lagi ngaji. Kongkow di sini sebagai syarat bahwa lo gak mati. Papa selalu punya duit lebih untuk dihabisin *Duh. Yang ini kok mirip saya* x_x

Apa lagi yang lupa panjenengan syukuri dari masa ini?

Dari masa yang siapa saja bebas berkarya dan berbicara. Masa di mana panjenengan bebas membuka seminar membedah sejarah yang menurut panjenengan banyak bagian terhapuskan.

Masa dimana para petinggi ramai turun ke kampung menjilat pantat warga. Dimana para jelata menuntut kesamaan hak menggunakan jalan. Ndak mau ada konvoi. Bikin macet makin parah. Bicara bebas di media, besok masih tetap kerja dan bertemu keluarga di rumah.

Ibu Pertiwi sudah ndak lagi seperti ibu tiri.

Istri panjenengan dan anak anak dibolehkan mau pake jilbab sepanjang apa. Ibu pertiwi sudah ndak menutup kebenaran seperti dulu. Lalu panjenengan ingin Ibu berubah menjadi bagaimana lagi? Syukuri apa yang ada.

Dulu, kebenaran nampak seperti barang HARAM. Sekarang, antum tahu seberapa tinggi harusnya celana antum. Bebas mau pakai kapan dan dimanapun. Syukurilah. Jangan banyak berteriak. Redam dalam doa, karena demo itu dilarang. Dan makar itu HARAM.

Bapak tak pandai memegang senjata karena memang tak perlu. Tapi jika ada pilihan yang sekaligus, maka dukunglah. Kadang, di masa-masa ini kita perlu “koboi” beneran. Saya bilang di masa ini. Entah besok. Lusa.

Tapi di jaman Bapak yang tak bersenjata ini pun, banyak hal semakin hebat. Iya sih, kadang beberapa hal tetap mejengkelkan. Khusnudzon saja. Saya yakin perjuangan Bapak tulus untuk Ibu Pertiwi saja. Bukan  untuk Ibu yang lain.

Saya makin suka jalan-jalan naik kereta api. Terima kasih, Pak. Sekarang sudah enak, dingin, nyaman dan aman. Datangnya juga udah ndak telat-telat lagi.

Ah, saya sih dinikmati saja. Masa ini tetap lebih enak kok. Kalaupun benar masa dulu lebih enak, toh Bapak yang dulu itu juga udah ndak ada lagi.

Di jaman ibu itu juga sama enaknya kok. Katanya suka jual-jualin aset berharga. Ah, khusnudzon wae. Sapa tahu memang waktu itu lagi butuh duit. Eh, anak-anak kan tahunya cuma yang penting bisa jajan. Mana tahu ternyata emaknya harus gadai anting dulu.

Coba inget. Dulu bilang banyak pengangguran.

Di jaman Ibu itu, akhirnya lebih banyak orang bisa kerja. Tiap bulan gajian. Pengin kerja di bank makin gampang. Dandan cantik, ngitungin duit tiap hari dari pagi sampai sore. Disegani nasabah. Dibaik baikin orang supaya dikasih hutangan. Mertua pun senang.

Masih protes karena katanya outsourching? Kampret. Sukur bisa kerja. Kalau gak suka keluar aja. Bingung saya sama situ.

Tiap tahun mintanya naik gaji. Ditawarin kerja pakai target ndak mau. Heh, temen-temen saya mau makan aja pikir-pikir, takut besok kurang modal buat kulakan. Masih mau bilang Pemerintah atau Bos Cina lu pelit?

Nih, Ente yang gampang banget dihasut sama pengangguran butuh duit yang cari duitnya pakai cara sok pahlawan mau belain ente supaya ente bisa naik gaji. Ane nanya. Suatu saat, ketika perusahaan besar tempat ente kerja sekarang, ndak lagi mampu bayarin gaji ente dan temen-temen ente yang jumlahnya ribuan itu, terus piye?

Ente yang kurang bersyukur dan gampang dibujuki.

Sudahlah, berhenti menjelekkan orang. Menghardik keadaan. Menghina kebijakan. Nikmati saja. Telan dalam dalam masuk ke dada. Ada Tuhan kan di dadamu? Nah, biar Tuhan yang selesaikan. CaraNya menyelesaikan masalah ya jelas jauh lebih baik daripada caramu dan cara saya.

Saya ndak bilang semuanya bagus. Tapi kenyataanya ndak semuanya buruk.

Berhentilah mencibir kekurangannya, sedangkan kelebihan dan kebaikannya pun ndak pernah kau puji. Jijik loh liat medsos mu isinya cuma sambatan, umpatan, celaan. Duh!

Kampanye itu, pas masanya aja. Kalo uda final, ya satukan dukungan. Hargai pilihan terbanyak. Jangan terus terusan bikin black campaign. Cemooh sana sini. Hidupmu loh!

Masih mau bilang “Enak Jamanku, toh.”?

Kalo sampean hidup di jaman dulu, bertingkah seperti sekarang, mungkin sisa nama aja, dulur.

Wes, ah. Enakan punya banyak teman, banyak dulur.

Enakan bikin orang tersenyum.

Enakan bersyukur daripada ente kufur.

Enakan sekarang.

 

-Mas Awang-

 

3 thoughts on “Piye, Enak Jamanku Toh?

  1. sudut pandang terbaru nih… jarang bs melihat penilaian seperti ini.. sip sip mas awang..

    1. Hhehehehe… mencoba selalu memandang dari sudut positif mbak..

      1. salam kenal mas nama saya Muji dari Makassar tapi dah tinggal di Banyuwangi.
        says sangat setuju dengan opini yang sampean tulis. salut dgn fikiran fositifnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *