Posted on

Jessica Wongso Bebas

“Sebenernya orang ini pembunuhnya apa bukan, sih?”

Tanya teman saya sambil meneruskan membaca artikel mengenai perkembangan kasus pembunuhan Mirna Salihin, yang diduga dilakukan sahabatnya sendiri, Jessica. Di sebuah kafe di Jakarta.

Wajahnya sih kalem yah. Menggemaskan. Sulit membayangkan orang seperti ini tega meracuni temannya sendiri sampai mati. Di depan matanya sendiri pula.

Saya ndak kalah penasaran dengan bagaimana kasus ini bisa jadi heboh seperti sekarang. Sidangnya disiarkan di berbagai chanel televisi nasional hampir tiap hari. Mirip sinetron. Ada yang bilang ini sengaja di-blow up sebagai pengalih perhatian kejadian besar di pemerintahan. Masa, sih?Ah, lagi-lagi teori konspirasi. Negeri ini sudah terlalu banyak menerima masalah yang berawal dari opini-opini konspiratif semacam itu. Parahnya meski ndak pernah terbukti, isu-isu itu berhasil memecah belah orang-orang. Seringkali pemicunya sederhana. Terlalu terburu-buru meyimpulkan sesuatu. Ndak pelan-pelan dicerna dulu sampai paham maksudnya.

Artikel cuma di baca judul saja, tanpa isinya. Padahal penulis sengaja mendesain judul agar click bait supaya menarik perhatian. Yang disampaikan justru berkebalikan dari judul. Tapi terlanjur dishare dengan imbuhan prolog yang semakin membuat panas.

Tanpa saksi fakta dan bukti

Kasus ini menjadi panjang karena katanya ndak ditemukan kedua hal tersebut. Rekaman CCTV kafe dikatakan ndak bisa jadi bukti resmi di dalam aturan hukum Indonesia. Sisa-sisa TKP juga ndak ada yang bisa dijadikan barang bukti. Berbagai saksi ahli yang diundang bicaranya pun hanya sebatas pendapat, bukan fakta.

Saya sontak teringat kisah Ali bin Abi Thalib (yang di Ridhoi Allah), sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wassalam. Suatu hari di masa kekhalifahannya, beliau melihat baju perangnya yang hilang terjatuh saat peperangan, berada di tangan pedagang yahudi. Merasa menemukan barangnya yang hilang, seketika Ali menghampiri pedagang tersebut dan mengatakan “itu baju perangku yang hilang”. Dan spontan sang yahudi menjawab “bukan, ini milik saya”

Tak puas dengan kejadian ini, khalifah Ali melaporkannya kepada Hakim.

“Wahai, ayahnya Husain.”, sapa Hakim.

“Jangan panggil aku seperti itu seolah kau akan berpihak kepadaku. Panggil aku Ali.”

“Baiklah, Ali. Apa permasalahnmu sehingga kau datang kemari?”

Sahabat Ali kemudian menceritakan kejadiannya. Di saksikan pula oleh pedagang yahudi.

“Adakah saksi darimu yang dapat membenarkan pernyataanmu, Ali?”, tanya sang hakim setelah memahami duduk permasalahan.

“Hasan dan Husein tahu betul bahwa itu baju perangku”

“Kau tahu tidak mungkin mereka menjadi saksi untukmu. Akan mungkin ada unsur kepentingan di dalamnya. Aku melakukan sesuai apa yang Rasulullah aturkan. Adakah orang lain, wahai Ali?”

“Tidak ada.”

“Wahai, pedagang yahudi. Apakah benar baju perang itu milikmu?”, tanya Hakim.

“Ya. Baju ini milikku.”

“Maka Ali, baju itu memang miliknya. Sidang ini selesai.”, tutup Hakim.

Setelah itu, pedagang yahudi mendekati sahabat Ali dan berkata.

“Sungguh, ini adalah keadilan yang dibawa Muhammad. Dan sungguh, baju perang ini memang aku temukan di bekas peperangan. Ini milikmu Ali, maka aku kembalikan. Dan aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusanNya.

“Terima kasih. Dan sekarang baju perang ini milikmu. Hadiah dariku untuk saudaranya.”, balas Ali.

(Saya selalu hampir menangis tiap mendengar cerita ini dan cerita para sahabat lainnya saat menerapkan aturan islam sebagaimana di ajarkan Rasulullah. Yang ndak jarang, karena keadilan dan akhlak mulia tersebut justru menarik simpati banyak kaum non muslim hingga memutuskan menjadi muallaf.)

Bayangkan sahabat Ali yang saat itu adalah seorang khalifah. Ndak cuma pemimpin tertingginya umat muslim, tapi seluruh jazirah arab dan sebagian besar dunia. Iya, sebagian besar dunia. Bersidang melawan seorang pedagang kecil, non muslim. Yahudi.

Raja dunia kalah dipersidangan hanya karena ndak bisa menghadirkan saksi dan bukti. Melawan orang kecil. Sungguh kejadian yang di jaman akhir ini sulit kita temukan.

Ndak ada bedanya dengan kasus Jessica sebenarnya. Rekaman CCTV di hukum Indonesia seperti Hasan & Husein pada kasus sahabat Ali. Tidak bisa diterima dipersidangan. Jika Hakim yang memegang perkara adalah Hakimnya sahabat Ali waktu itu, maka Jessica pun bebas. Seperti pedagang Yahudi tadi.

Wallahu ‘alam siapa yang membunuh Mirna. Kebenaran sejati ada di tangan Sang Maha Tahu. Sang Maha Melihat.

Teori-teori yang kita susun berdasar materi persidangan bisa jadi mengarah kepada Jessica. Maka akan menjadi kemenangan besar, JIKA memang pada kenyataannya, Jessica lah yang melakukan pembunuhan keji tersebut. Pertanyaan yang perlu Panjenengan jawab adalah, bagaimana jika memang pada kenyataannya bukan Jessica yang membunuh Mirna.

Bagaimana jika ternyata ada teori lain diluar pemikiran kita (tapi berhasil terpikir oleh pembunuh aslinya) yang berhasil membuat Mirna pergi untuk selamanya?

Semoga Allah menerangkan apa yang benar. Dan menutup aib kita.

 

-Mas Awang-

 

 

4 thoughts on “Jessica Wongso Bebas

  1. semua pembelaan masih brhubung dengan HAM milik jessica, tdk tau hati kecilnya apa dia ato bukan.. Ngerinyaa… yg jelas yg tega membunuh Mirna skrg semakin byk dosanya, karena byk menutup kebohongan.. keadilan di dunia hy sementara namun yg sbnrx nanti di Akhirat..

    1. Betul mbak. Hukum akhirat lebih berat

  2. semua di dunia ini based on ‘what if’ atau bagaimana jika..
    sebenernya kalo semua manusia mengembalikan ke pertanyaan dasar ini sebelum bertindak, we would live in a world that no crimes and hatred.

    namaste!

    1. Makanya ada asas praduga tak bersalah ya. Tujuannya ndak lain utk supaya tetep objektiv menyidik dan memperadili tersangka. Sampai benar2 terbukti bersalah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *