Posted on

Bagaimana (SEFT) Menolak Rokok?

“Nggak enak.”

Kata seorang bapak setelah sekali menghisap rokoknya. Ia kemudian ndak cuma meletakkan rokok itu di asbak, tapi juga berusaha mematikannya dengan segera seolah benci dengan asapnya.

Sore itu kami ndak sengaja ketemu di kedai makan dekat kantor saya. Entah bagaimana kita terlibat obrolan yang cukup asyik, hingga saya cukup berani menceritakan SEFT dan menawarkan ke beliau untuk mencoba. Saya ceritakan SEFT sudah banyak membuat orang berhenti merokok. Sebagian besarnya berhenti saat itu juga, sebagian lagi ada yang perlu beberapa kali terapi. Beliau tertarik.

“Pak, saya ndak janji ini pasti berhasil, tapi mudah-mudahan ya. Kita coba saja.”, prolog sebelum saya mulai. 3-4 menit kemudian terapi selesai, dan saya langsung arahkan si Bapak untuk menghisap rokok yang sudah disiapkan di asbak dalam keadaan nyala.

Ndak cuma si Bapak. Beberapa teman yang bersama beliau juga mengutarakan kekaguman. Salah satu bertanya “Gimana rasanya, pak?”

“Ampang (hambar cenderung pahit), pak.”, jawab si bapak sambil sesekali mengecap bibirnya, seperti berusaha menghilangkan bekas rasa dari hisapan terakhir barusan.

Bagaimana SEFT bisa melakukan ini, apalagi dalam waktu yang cenderung singkat?

(Belum tahu SEFT? baca di sini)

Para SEFTer sebelum melakukan terapi, selalu disarankan menggali informasi terkait keluhannya. Outlinenya kurang lebih sama seperti saat kita akan membuat sebuah tulisan. Kenapa merokok? Bagaimana rasanya rokok itu? atau Bagaimana perasaannya saat merokok? Kapan mulai merokok? Dan, Apa yang terjadi/dirasakan ketika ndak merokok?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi kemudian dirangkum oleh terapis menjadi sebuah kalimat Set-up.

Pernah dengar “Segala sesuatu bergantung pada niatnya.”?

Yap. Kalimat set-up ini berfungsi sama seperti niat. Gunanya untuk memposisikan hati agar fokus serta sungguh-sungguh saat terapi berlangsung. Ndak hanya klien, terapis juga.

“Ya Allah, meskipun saya sudah lama merokok. Sejak SMA. Dan kalau ndak merokok, apalagi setiap habis makan saya merasa sangat gelisah. Saya ikhlas, ya Allah. Dan saya pasrahkan kesembuhan kecanduan rokok saya ini hanya kepada-Mu, agar saya menjadi lebih sehat, serta istri saya lebih bahagia.” Kalimat set-up ini setidaknya diucapkan sebanyak 3 kali secara sungguh-sungguh (dihayati tiap katanya) dengan dipandu terapis.

Saat terapis memandu klien mengucapkan kalimat set-up, secara otomatis juga memposisikan hatinya agar ikhlas dan memasrahkan apapun hasil terapinya hanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Setelah itu, dilanjutkan melakukan tapping di seluruh titik meridian utama. Sambil terus mengucapkan “saya ikhlas, ya Allah. Saya pasrah” sampai terapi selesai.

Dulur, bayangkanlah sebuah robot raksasa yang di dalamnya terdapat ratusan pekerja. Para pekerja ini bergantung pada energi listrik yang mensupport komputer mereka (antar komputer saling berhubungan dengan komputer milik pekerja lain). Setiap pekerja memiliki tugas masing-masing. Namun kesemuanya bekerja untuk satu tujuan, yaitu membuat robot tersebut tetap hidup, berkarya, dan bermanfaat.

Sakit fisik, emosi, pengaruh lingkungan, kejadian masa lalu, kekhawatiran terhadap masa depan, dan gangguan lain, adalah virus yang menyerang aliran listrik di beberapa titik, mengakibatkan 1-2 hingga mungkin beberapa komputer mati. Akibatnya robot tersebut mengalami penurunan performa.

Obat-obatan, dan tindakan medis bagaikan tim teknisi yang melakukan segala sesuatu sesuai ukuran dan perhitungan yang tepat agar kelistrikan kembali lancar. Para pekerja tinggal menunggu pasrah saat obat-obatan itu bekerja, sambil sesekali membantu jika diperlukan.

Tubuh memiliki kemampuan menyembuhkan diri sendiri.

Sebenarnya setiap pekerja yang ditugaskan dalam robot tersebut adalah orang-orang pilihan. Mereka sudah dibekali dengan berbagai ilmu pendukung, termasuk melakukan perbaikan-perbaikan pada infrastruktur pendukung pekerjaan mereka jika dibutuhkan. Ini kemampuan yang dimiliki oleh setiap sel di tubuh kita. Bukti kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta. Obat-obatan, tindakan medis, dan berbagai terapi yang ada adalah upaya untuk mendukung sel-sel tersebut menyembuhkan dirinya.

Oke, simpan dulu yang di atas di sebagian ingatan Panjenengan. Kita masuk ke bagian bahasan yang lain terlebih dahulu. Nanti kita gabungkan lagi keduanya.

Emosi dan fisik itu berkaitan.

Seringkali sebuah gangguan atau penyakit disebabkan oleh kedua hal ini mengalami gangguan yang saling berhubungan. Artikel berikut menyampaikan dukungan terhadap teori bahwa kebahagiaan seseorang memberi pengaruh terhadap kesehatan fisiknya, juga produktivitasnya dalam menjalani hidup.

http://health.liputan6.com/read/2601437/5-hal-yang-senyuman-ungkap-tentang-diri-anda

Kalau ndak cukup dengan itu, berarti Panjenengan harus mau mengambil tantangan ini. Cobalah dalam waktu seminggu saja, Panjenengan berjalan dengan lebih sering merunduk, kurangi senyuman, dan ketawa. Kemudian ceritakan ke saya, apa yang Panjenengan rasa setelah seminggu. Bagaimana kira-kira tingkat stress Penjenengan?

Pernah mendengar bahwa tingkat stress seseorang dapat mempengaruhi kesehatannya? Tekanan darah misalnya. Atau juga terhadap kadar gula darah. Pernah?

Oke. Sekarang ambil lagi ingatan yang sebelumnya saya minta panjenengan kesampingkan. Mari kita hubungkan.

Kecanduan rokok merusak banyak sekali sel tubuh. Sebab biasanya kecanduan ini sudah dialami sejak cukup lama. Obat-obatan dan tindakan medis rasanya tidak cukup menyembuhkan gangguan ini, karena tidak hanya fisik yang dirusak, melainkan juga emosi. Sebut saja, gelisah jika tidak merokok, sampai marah ketika mencapai kondisi tertentu. Kurang percaya diri bergaul jika tidak sambil merokok. Dan kadang ada beberapa orang mengaku kurang bisa berpikir optimal kalau ndak sambil merokok. Ah, saya jadi ingat guru matematika saya sewaktu SMA. Pasti hanya sedikit guru di dunia ini yang diijinkan merokok saat proses belajar-mengajar. Beliau salah satunya.

Di dalam robot tersebut, banyak pekerja yang tidak bisa bekerja optimal karena kerusakan infrastruktur yang dialami. Bukan mereka tidak mampu memperbaiki, tapi kerusakan ini berhubungan dengan rusaknya komputer pekerja di bagian lain, yang bahkan posisinya sangat berjauhan. Kelistrikan pekerja di bagian fisik/hardware berhubungan erat dengan kelistrikan pekerja di bagian software/mental/emosi. Tidak cukup menyembuhkan satu bagian saja. Harus keduanya. Emosi dan fisik.

SEFT bekerja seperti seorang motivator yang di sewa sebuah perusahaan untuk membangkitkan semangat seluruh karyawannya guna mengoptimalkan kembali potensi yang dimiliki. Membersihkan kerak-kerak pada jaringan kelistrikan yang menyebabkan terhambatnya arus listrik menuju ke komputer-komputer pekerja. Tidak hanya menyentuh bagian fisik, tapi secara bersamaan juga melakukan perbaikan di bagian emosi.

Saat seluruh pekerja, atau setidaknya sebagian besar dari pekerja yang sebelumnya tidak bisa bekerja kini bisa kembali bekerja, mereka akan kembali pada rutinitas dan sistem standart yang dimiliki robot tersebut. Hal-hal yang tidak termasuk dalam daftar sistem dan regulasi pabrikan akan otomatis ditolak kehadirannya.

Ini yang terjadi pada bapak tadi. Ketika sebagian besar gangguan emosinya terselesaikan. Sebut saja kegelisahan saat tidak merokok, kemudian ditambah dengan hadiah (insentiv/motivasi) jika berhasil istri akan lebih bahagia, maka saat ada hal yang tidak sesuai masuk kedalam dirinya (asap rokok), mulut dan indera perasanya akan otomatis menolak.

Apa benar seperti itu?

Ini koreksi sederhananya. Tanyakan kepada para perokok dan minta mereka jawab dengan sejujur-jujurnya. Saat mereka menghisap rokok untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, apakah saat itu juga mereka langsung suka dan menikmatinya?

Saya yakin, jawabannya adalah TIDAK. 

Asap itu akan mulai “terpaksa” diterima oleh tubuh di hisapan-hisapan selanjutnya. Beberapa orang batuk-batuk saat pertama kali, karena tersedak atau tenggorokannya panas. Sedikit pusing bahkan mual. Orang yang memilih untuk tidak memaksa dirinya, tidak akan menghisap lagi bahkan untuk selamanya.

Tapi orang kedua, karena pengaruh dan mungkin tekanan dari lingkungan atau orang sekitar (biasanya teman-teman dekat yang terlebih dahulu menjadi perokok), akan memaksa dirinya supaya dapat membiasakan diri terhadap asap tersebut.

Sayapun dulu, merokok hanya saat bersama teman-teman sesama perokok. Sembunyi-sembunyi dari guru, orang-orang tertentu, termasuk tetangga dan orang tua. Saat awal belum terlalu mencandu, sehingga ndak masalah kalaupun ndak merokok, apalagi jika kondisi belum cukup mendukung.

Dulu saya bisa biasa saja saat berdiam diri menunggu sesuatu. Jika bisa, saya akan lakukan hal lain. Tapi begitu mencandu rokok, ia adalah hal wajib yang harus ada saat dimanapun berada. Terlebih saat sendiri menanti sesuatu/seseorang.

Setelah selesai makan pun biasa saja. Tapi setelah sering kali mendengar “Abis makan ndak ngerokok, sama kayak kita dipukulin orang tapi ndak bisa balas.”, maka sayapun terbiasa merokok setelah makan. Lalu berubah menjadi ritual wajib setelah makan. Kalau diingat, saat itu rasanya bukan makanan yang mengenyangkan. Tapi rokok.

Saya tidak mengatakan cukup hanya SEFT untuk benar-benar melepaskan diri kita dari kecanduan rokok. Apalagi cukup dengan sekali terapi. Peran keluarga dan lingkungan juga akan berpengaruh. Itu sebabnya jika dibutuhkan, harus dilakukan terapi kembali hingga benar-benar bisa menolak rokok baik saat jauh dari komunitas perokok aktiv maupun saat sedang berada ditengah mereka.

Beberapa minggu setelah berhenti merokok, istri sempat ndak suka sama bau badan dan nafas saya yang ndak seperti biasanya. Katanya malah saat itu lebih buruk ketimbang saat masih merokok. Tapi hanya berjalan sekitar 1-2 minggu. Bahkan makin kesini, katanya wajah saya terlihat lebih bersinar. *ehem*

Secara ndak sengaja istri menemukan artikel yang menyebutkan bahwa, akan ada perubahan-perubahan saat orang berhenti merokok. Perubahan itu dampak dari proses detoksifikasi yang dilakukan tubuh. Salah satu cirinya sama seperti yang sempat saya alami. (Bagi saya ini bukti nyata, bahwa tubuh melakukan penyembuhannya sendiri setelah sel-sel terkait dapat bekerja sebagaimana mestinya)

Sekarang, saya sampai bisa mual-mual jika berada di tengah-tengah perokok aktiv. Selain itu, banyak perubahan positif yang saya sangat nikmati sekarang. Saya merasa lebih sehat, mulut dan nafas jadi lebih segar.

(Ada satu yang saya yakini memberi kontribusi paling besar dalam proses tersebut, dulur. Dan itu menjadi salah satu inspirasi saya atas tulisan yang ini, http://awengpetz.com/2016/10/02/suami-sebagaimana-doa-istri-5-hal-ini-kunci-utamanya/

 

Panjang ya ceritanya, dulur.. :)))

(Panjenengan, kapan mau resign dari departemen icip-icip nya perusahaan rokok??)

 

-Mas Awang-

 

 

7 thoughts on “Bagaimana (SEFT) Menolak Rokok?

  1. Ahhaaa… marvelous… marvelous…!!!

    Tak menyangka dirimu ada bakat jadi terapis SEFT, mas e…

    Semoga jadi amal jariyah 😊

    1. Hhehehehe… alhamdulillah cik Gu

  2. punya kenalan SEFT yg di surabaya mas?

    1. Adaaa.. Kalo butuh nt tak kenalin temen dokter.

      1. boleh mohon infonya ya..

  3. Kapan iso nyobano SEFT nang nico Wang? Aq arepe bljr dw g smpt2..

    1. Ayo kapan. Nek aku pas ng jabar. Atau pas awakmu ng jatim yoh. Hahaha..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *