Posted on

Nama Lintas Budaya

Saya pernah tanya ke Ayah saya, arti nama saya itu apa? Kala itu saya masih duduk di bangku SD. Banyak teman-teman yang sudah lebih dulu tahu arti namanya. Nah, makanya saya penasaran. Ayah saya orang asli Yogyakarta, sedang ibu lahir di Kalibaru, desa paling selatan kota Banyuwangi. Jadi, semuanya asli Jawa, ndak satupun dari luar pulau. Nama Awang Ardhiansyah rupanya membuat banyak orang mengira saya keturunan Kalimantan. Ada yang mengira saya orang Pontianak, ada juga yang mengira dari Sambas.

Iya, mereka juga bilang begitu. Katanya, nama “Ardhiansyah” biasanya digunakan oleh keturunan bangsawan orang Kalimantan. Hmm, mungkin ini sebabnya, kadang warna darah saya berbeda. Hiyaaa, bukan Red Cherry! *tears*

“Supaya kamu punya cita-cita dan manfaat setinggi awan di langit. Tapi, tetap membumi. Ndak sombong.”, begitu, jawab ayah saya. Ternyata ndak jauh beda lah artinya dengan yang tersebar di google. Awang sendiri diartikan dengan beberapa makna, sahabat, awan/langit, ada juga yang mengartikan sebagai anak muda, sedangkan Ardhiansyah, artinya Raja Bumi. Saya bangga dengan nama ini, terlebih dengan nama belakang saya. Pengingat agar selalu menjadi pribadi yang rendah hati. Betapapun ketinggian ilmu seseorang, gelar, dan jabatan, akan tanpa kemuliaan jika tidak memiliki sifat ini.

Ardhiansyah kemudian menjadi inspirasi dan nama kesukaan. Ini sebabnya, akan selalu disematkan di belakang nama anak-anak saya. Muhammad Zain Arsya Ardhiansyah, semoga menjadi pribadi terpuji, perhiasan keluarga kami yang rendah hati. Begitupun adiknya, Haniffata Zafirah Asrya Ardhiansyah. Kami berharap dijadikanlah ia sebagai muslimah rendah hati yang senantiasa dinaungi keberuntungan.

Nama memang tidak serta-merta menjadikan orang persis seperti arti namanya. Banyak yang memiliki nama sangat indah, namun tidak tercermin lewat kepribadiannya. Pemberian nama ialah awal rangkaian ikhtiar. Doa dari sang pemberi nama. Mengawal pemilik nama untuk terus berusaha menjadi pribadi cerminan namanya, hingga Allah menentukan demikian.

Di beberapa daerah, nama tidak hanya sekedar doa, namun juga digunakan sebagai tanda pengenal. Ditetapkan kepada seseorang sesuai ketentuan yang telah dianut turun-temurun, guna menunjukkan identitas sosial sang pemilik nama. Misalnya saja, di Bali, dari namanya kita bisa mengetahui bagaimana kedudukan kasta orang tersebut, selain sebagai corak khas kesukuan.

Menariknya, seakan kaidah kesukuan dan kasta tersebut mulai dikesampingkan  di jaman-jaman sekarang. Teknologi informasi memberi kontribusi terhadap pergesaran pola ini. Orang jadi mendapat banyak wawasan tentang ragam nama di luar yang lazim digunakan di daerahnya. Berbekal informasi yang cukup mengenai makna sebuah nama tertentu, asal dirasa cocok dengan harapannya, orang tidak segan menyerap nama tersebut untuk di sematkan kepada buah hati. Tidak hanya lintas suku, lintas daerah. Tren ini hingga jauh melampaui batasan negara.

Apakah ini sebuah pergesaran positif atau negatif? Tentu tergantung bagaimana dan dari sudut mana kita memandang. Satu sisi, tradisi dan budaya semakin tergerus seiring perjalanan waktu. Tapi di sisi lain, garis batasan memudar, tak tampak lagi suku, keturunan, dan kasta. Yang bersisa hanyalah karya, budi luhur, dan kesatuan bangsa. Indonesia!

Yang bersisa tinggallah fungsi nama sebagai doa dan pengharapan. Apapun namanya, seunik apapun, pasti dibuat dengan niat yang indah. Karena terkadang sesuatu, bermakna persis seperti yang diinginkan oleh orang yang memaknainya. Seperti reformasi bisa bermakna indah dengan lahirnya beragam warna dari warna yang satu. Namun, bisa juga bermakna kehancuran jika orang memaknai sebagai berakhirnya batasan aturan dan norma.

Siapapun kita, semoga makin hari, makin persis tingkah laku dan kehidupannya dengan keindahan nama kita.

Selamat beraktivitas, duluur..

Assalammu’alaikum

-Mas Awang-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *